Belajar menghadapi situasi “nggak enak”

Standard

Selama kami “ngungsi” belakangan ini di rumah bunda yang notabene hanya berjarak 50 meter ke mesjid, Kenzie alhamdulillah banyak kemajuan dalam hal belajar shalat. Saat azan berkumandang, pekerjaan apa pun yg sedang dia lakukan pasti dihentikan & langsung ngajak papanya atau saya atau mbaknya buat shalat ke mesjid.
Ambil sajadah kecil & langsung jalan ke mesjid. Bahkan Zie pernah bilang waktu saya baru pulang kantor & terlambat shalat, kalau azan kita harus langsung shalat, kenapa mamana baru shalat sekarang? Kan azannya udah dari tadi?😀 *pengen usap2 kepalanya Zie deh rasanya, insyallah soleh terus ya sayang*
Hari ini seperti biasanya kenzie & saya Maghrib di mesjid, langsung saja Zie ambil posisi dengan menggelar sajadahnya di shaf pertama, lalu duduk manis sembari menunggu jamaah lain shalat sunnah. Setelah iqomah berkumandang, saya sengaja memperhatikan Zie sebentar untuk memastikan dia siap shalat, & biasanya jika akan berpisah Kenzie memberikan acungan jempol kepada mama/papanya sebagai tanda “I’ll be okay” seperti yg dia selalu lakukan saat turun dari mobil menju gerbang sekolahnya😀. Balik lagi ke mesjid, setelah iqomah selesai, jemaah laki-laki mulai mengisi shaf-shaf kosong, dan saat itulah Kenzie mulai tergusur, awalnya seorang bapak nyuruh Zie pindah ke belakang karena anak-anak sendirian (tanpa pendamping dewasa pulak :p) lalu kemudian oleh seorang remaja & begitu seterusnya sampai akhirnya Kenzie lompat ke shaf ke-6, dengan kesusahan membentangkan sajadahnya setiap pindah shaf, dalam hati saat itu ingin sekali maju ke depan & membantunya, namun keinget sama tulisan @bundaalzena di blognya yg menceritakan Thifa saat itu yg ingin beli puding tp tidak cukup uang, pasti semua orang tua yg melihat anaknya dalam keadaan sangat ingin membantu, namun dengan membiarkannya supaya dia belajar menghadapi situasi yang tidak selamanya selalu menyenangkan & sesuai harapannya.
Sepulangnya dari mesjid Kenzie cerita tanpa ditanya, kalau dia tadi pindah-pindah baris shalat (shaf) dan tanya kenapa anak kecil harus di belakang, supaya shaf tidak. Terputus. Ah ternyata banyak manfaatnya hari ini, Kenzie belajar menhadapi situasi yang tidak enak sendirian, tanpa mama/papa di samping & belajar juga kenapa anak-anak sebaiknya memiliki shaf sendiri saat shalat.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s