Bernegosiasi dengan batita

Standard

Usia batita selain sebagai golden period juga menjadi negotiation period untuk saya. Bagaimana tidak, Kenzie yang saat ini hampir mencapai usia 3 tahun mulai banyak melakukan penawaran saat saya mulai menerapkan peraturan untuknya, tentu saja dengan kalimat – kalimat yang dapat dicerna otak anak.

Seperti saat secara bertahap mulai membiasakan dia untuk tidur di kamarnya sendiri, saya sengaja menggunakan tempat tidur beda tingkat agar dia terbiasa tidak ada orang di sebelahnya, hanya bantal dan boneka sebagai “penjaga” malamnya, walaupun saya berada di satu kamar yang sama sepanjang malam, maksudnya agar Kenzie bisa dan biasa untuk menenangkan diri sendiri sebelum tidur. Namun ritual malam sebelum tidur selalu saja menemui banyak negosiasi dengan anak kecil ini, seperti, “Mamana boleh tidur di tempat tidur atas, asal tangan mamana tetap ke bawah supaya Kenzie bisa pegang tangan mamana saat monster datang” atau “sebentar ya ma, Kenzie mau isi bahan bakar untuk laser, supaya pas Kenzie merem, bisa ngelawan monster”.

bernegosiasi dengan batita = negosiasi dengan daya imajinasi dan keterbatasan kata

Bernegosiasi dengan anak yang dalam tahap menumbuhkan kepercayaan diri memang musti hati – hati, salah sedikit anak merasa tidak didengar dan berakibat tantrum. Belajar menjadi pendengar dan pastinya bertanya lebih detil apa yang dimaksud anak sangat penting, imajinasi yang sedang berkembang luar biasa besarnya terkadang menjadi masalah orang tua menemukan titik masalah anak. Dalam hal ini, Kenzie merasa ada monster saat dia mulai memejamkan matanya, dia takut bila sendiri dan saatnya mulai tidur berarti dia berpisah dengan mamanya. Saya banyak bertanya detil soal monster yang menjadi momok ketakutannya, seperti apa bentuk monsternya, Kenzie pertama tahu soal monster ini dari mana, sampai saya ikut “masuk” ke dalam imajinasinya dan bertanya siapa nama monster itu.

Dengan bernegosiasi, anak dapat menumbuhkan rasa percaya sekaligus nyaman berbagi dengan orang tuanya, bila anak tidak atau belum terbiasa untuk bernegosiasi, orang tua bisa memulainya dengan mencoba mengajak mereka bernegosiasi hal – hal sederhana, seperti apa yang anak boleh makan setelah ia menghabiskan makanan utamanya. Dengan bernegosiasi juga saya merasakan rasa kepercayaan diri Kenzie saat dia berada bersama teman – teman sebayanya, dia sudah bisa mengatur layaknya pemimpin, dan sedikit beranalisa tentang hal – hal yang dia lihat di sekitarnya, seperti tadi pagi saat Papacanya sakit, dia bilang “papa harus di rumah, nanti orang – orang bilang, kok Kenzie enggak jagain papaca” buah pikiran ini dia dapat saat dia meminta papacanya tidak berangkat kantor karena Kenzie masih ingin main dengan papanya.😀

Yang harus diperhatikan adalah mendengar apa yang dia minta, mulai lah bernegosiasi menurut pemikiran anak seusianya, maknai perasaannya, tatap mata anak sejajar dengan mata kita, namun bila akhirnya anak tidak sependapat, peluk dan katakan kalau kita menyayangi anak kita dan bangga anak kita sudah bisa mengungkapkan perasaanya, apa yang ia mau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s