Berhenti menghakimi Ibu lain

Standard

Saya mendapatkan tulisan ini di majalah Parents Indonesia @parentsindo edisi April 2011, dan saya cukup tertohok membacanya, demikian tulisannya, “Berhenti menghakimi cara orang lain membesarkan anaknya, kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kehidupan si Ibu, mungkin ia lebih membutuhkan pelukan daripada  tatapan merendahkan” DARR!!…. Saya akui kadang saya menatap nyinyir pada seorang Ibu yang “berbeda jalan” dalam mendidik anaknya dengan saya, dan sering sekali saya temui ucapan yang sebenarnya secara tidak langsung menghakimi Ibu lain, padahal mereka hanya sebagai penonton bukan pengamat kehidupannya seperti “kenapa sih anaknya digendong baby sitternya, Ibunya malah cuma ngedorong stroller” atau “ih, kasian deh baby sitternya ga dikasih makan, majikannya asik-asik makan” padahal kita tidak pernah mikir kan kalau si Ibu yang mempunya back pain pasca operasi cesar sehingga tidak bisa mengangkat beban yang berat, atau si baby sitter memang tidak suka dengan makanan yang saat itu dimakan oleh majikannya, dan mungkin saja majikannya sudah membelikan makanan lain untuk baby sitternya.

Segala kemungkinan – kemungkinan yang kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada keluarga lain, dan dengan mudahnya kita menghakimi, hmpfff… saya bukan orang tua yang sempurna & bukan malaikat, oleh karenanya saat ini sedang mencoba meminimalisir kadar kenyinyiran, dan semoga orang – orang yang kebetulan baca tulisan ini dan suatu ketika mendapatkan saya sdg nyinyir bisa membantu untuk mengingatkan ya🙂

beda anak, beda strategi

Menjadi orang tua memang tidak mudah, apalagi menjadi orang tua yang baik, saat anak tantrum di tempat umum, rasanya ingin sekali cepat – cepat menggendong dan menghilang secepatnya dari situ sebelum ada orang yang melihat, tapi masalah tidak akan berhenti sampai situ, apa iya lalu anak kita akan tenang dengan sendirinya? ada banyak cara juga menghadapi anak tantrum, anak gtm, anak susah tidur siang, dan banyak lagi persoalan yang kita temui dalam membesarkan anak. Di zaman yang serba canggih seperti saat ini semua ilmu bisa kita dapatkan dengan mudah, dari internet, dari sharing di forum – forum parenthood atau dari seminar. Saat semuanya telah kita dapatkan, tentu tidak serta – merta kita aplikasikan dan telan bulat – bulat semua ilmu itu, balik lagi pada karakteristik anak, karena anak adalah seorang manusia yang unik, yang berbeda satu sama lainnya, saat Ibu A bisa mengaplikasikan ilmu A, belum tentu Ibu B bisa mengaplikasikan ilmu yang sama pada anaknya, bahkan siblings pun yang keluar dari satu rahim yang sama mempunyai karakter yang berbeda. Tentunya seorang Ibu menerapkan ajaran yang telah dipercayainya bisa membawa kebaikan pada anaknya, mari sama- sama menghormati tanpa melihat ilmu tersebut benar atau salah.

Ilmu parenthood adalah seni, kreatiflah dalam mengaplikasikannya, sesuaikan dengan keadaan pribadi anak, dan lingkungan, semoga saya pun bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dari berbagai sumber dengan baik.

3 responses »

  1. Setujuuuu! Tambahan, Biar gimana kita pikir kita sdh maximal membesarkan anak, berharap jadi ibu teladan, ternyata kl dilihat dr ilmu yg lain mungkin kita bnyk salahnya.
    Ilmu parenting bukan ilmu pasti, terus belajar demi anak, bukan demi dipuji org (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s