Mengontrol emosi anak

Standard

Saya pernah dengar wawancara Reza Gunawan seorang pakar self healing tentang emosi, bahwasanya emosi itu tidak bisa diredam, tetapi bisa dimanage. Pada anak – anak mengajari sedini mungkin memanage emosi menurut saya akan lebih mudah dibandingkan saat anak sudah terbentuk menjadi seorang remaja.

Saat Kenzie mulai berteriak untuk sebuah keinginan dan tidak mendapatkannya, saya sering tergoda untuk membawanya ke tempat time-out di rumah, dan bahkan berteriak balik ke Kenzie, tapi bila saya melakukan hal tersebut saya tidak akan mengajarkan apa-apa pada Kenzie, dan saya tidak mau, Nandra kecil muncul di diri Kenzie😦

Anak sering merengek saat lelah atau mencari perhatian, saat kita bilang “jangan merengek” mereka tidak tau apa itu merengek, saya suka memberi contoh saat kenzie dalam keadaan tenang bagaimana tidak enaknya mendengar suara rengekan, dan memberi penjelasan kalau menangis/merengek mama tidak ngerti, ngomong dengan suara yg baik, biarkan mereka jelaskan perasaan mereka, pancing anak untuk menjelaskan dengan nada suara yang tenang “kamu kesal?”

Tapi ada saatnya anak kesal pada orang tua sendiri, ajari mereka & biarkan anak bicara pada hewan peliharaannya atau barang kesayangannya, yg penting terluapkan kekesalannya, bukan memendamnya. Pada orang dewasa Reza Gunawan memberikan trik saat kita sudah kesal, kkta boleh loh memaki sambil bercermin, atau yang sering saya lakukan belakangan adalah menulis rasa kesal saya pada note bb atau sebuah kertas, dan menyelipkannya di dompet, nanti saat saya sudah merasa tenang, saya hapus atau buang kertas tersebut :p

Pada sebagian anak, tenaga untuk meluapkan kemarahan ada yang berlebih, kadang mereka menghentakkan kaki, atau memukul, alihkan dengan mengajak menari yang melakukan hentakkan kaki, atau bermain doh, dengan meremas dan melempar, sedikit bisa meluapkan kekesalan anak. Dengan cara tersebut anak malah tambah agresif? coba berikan kenyamanan & perhatian supaya anak tau kalo kita perduli perasaannya, ucapkan “mama tau kamu kesal” peluk anak dan lembutkan suara, balita dpt terhibur hanya dengan sentuhan fisik, jangan remehkan “kekuatan” dari sebuah pelukan agar anak merasa dicintai & diterima.

Panutan no.1 anak adlh ortu, jd yg paling penting mama papanya belajar manage emosi jg, apalagi kl lg nyetir bawa anak & ada yg nyerempet :p Karena anak yg tidak bisa mengontrol emosinya kemungkinan besar kelak menjadi anak yg suka mem-bully, jadikan ortu sebagai contoh, jadi ortunya jg musti belajar😉

Saat org tua sedang berbeda pendapat di depan anak, sebisa mungkin kontrol suara jangan sampai meninggi, jelaskan kalau mama & papa sedang berbeda pendapat kali ini, tapi kami tetap saling menghargai & menyayangi, anak jadi belajar juga bahwa di luar sana tidak semua orang setuju dengan ucapan kita, ada banyak perbedaan.

Dan selalu puji perilaku baik anak. Biarkan anak tau bahwa kita bisa bernegosiasi dengan emosi dengan cara yang lebih positif dan tidak meninggalkan bekas luka di hati orang.

3 responses »

  1. Wah, terima kasih untuk tulisannya. Sungguh inspiratif! Memang susah-susah gampang ya jadi orang tua (lebih banyak susahnya sih, makanya ditulis dua kali).

    Saya sendiri sebagai anak -karena belum jadi orang tua- juga merasa bahwa terkadang secara sadar maupun tidak sadar seorang anak dapat merasa kesal dengan orang-orang di sekelilingnya, namun medium pelariannya itulah yang menjadi masalah.

    Salah satu medium pelarian yang sering saya gunakan (dan sangat salah) adalah makan. Ketika saya kesal, saya makan sebagai usaha menenangkan diri sendiri. Dan saya kira banyak anak-anak lain yang juga seperti saya.😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s