Baby Blues so Blue

Standard

Sepulangnya dari rumah bersalin, saya sangat semangat dan sudah memprediksi betapa senangnya hari – hari yang akan saya dan suami miliki, setiap harinya bisa mencium pipi gempal dan menggenggam jari gemuk – gemuk bayi kami Kenzie. Seminggu pertama semuanya tampak menyenangkan, teman, tetangga dan saudara silih berganti mengunjungi kami untuk bertemu dengan seorang manusia kecil yang baru datang ke dunia.

Dan sampailah saya ditahap depresi dan merasa kelelahan, karena saat itu saya belum memakai tenaga baby sitter, Ibu saya harus dirawat di RS karena penyakit Maagnya kambuh, kakak saya pun menjalani operasi usus buntu di waktu yang bersamaan, mertua saya tinggalnya cukup jauh dari kami. Akhirnya dengan semangat yang tersisa, saya dan suami pun saling bahu membahu untuk sebisanya memandikan, menyusui, menjemur di pagi hari.

Saat itu kebetulan bersamaan dengan waktu deadline suami di kantor yang mengharuskan suami saya bekerja dengan waktu yang lebih lama, hormon pasca melahirkan pun seolah tidak mau meninggalkan tubuh saya, saya stres dan capek sekali, payudara yang luka karena masih belajar menyusui, jahitan yang belum sempurna menyatu dengan kulit, menyebabkan saya masih terbatas bergeraknya. Bangun di tengah malam dan menyusui Kenzie sepanjang malam, menjadi rutinitas baru yang cukup melelahkan.

Hormon pasca melahirkan ternyata “jahat” banget, ditambah badan yang kelelahan pasca melahirkan. Kalau banyak orang di rumah perasaan senang sekali, tapi begitu semua pulang, apalagi saat Maghrib tiba, saya rasanya sedih dan selalu nangis, sambil terus menyalahkan diri sendiri “apa ASI saya ga cukup buat anak saya?” “Kenapa dia nangis terus?” “Kenapa maunya digendong terus?kan capek”.

Kenzie pun makin hari makin terlihat kuning kulitnya, mungkin karena saya stres dan saya merasa ASI saya tidak cukup, kami pun membawa Kenzie ke RS, dan saat itu dokter memastikan kadar billirubin Kenzie naik, karena saya merasa saya tidak bisa merawat anak dengan baik, saya pun berpikir dan memutuskan biar Kenzie dirawat sementara di RS, sekaligus untuk menurunkan kadar bilirubinnya.

Alhamdulillah saya tidak menyerah pada susu formula saat itu, setelah Kenzie masuk RS sore hari, malamnya kami pulang ke rumah, dan di rumah, saya nangis sejadi – jadinya, saya sedih sekali dan merasa kecewa tidak becus ngurus anak, baju terakhir yang Kenzie pakai ke RS, saya cium – cium terus sampai saya capek menangis dan akhirnya tertidur.

Malam harinya saya terbangun, dan reflek menghampiri crib Kenzie, tp Kenzie ternyata ada di RS, saya nangis lagi, suami saya yang sangat sabar mendampingi dan terus memeluk saya yang sesegukan nangis. Pagi harinya saya harus pompa ASI, dan Alhamdulillah, dalam pertama kalinya saat itu saya mendapatkan lebih dari 100 cc di hari ke-10 usia Kenzie, senang sekali rasanya, suami saya bilang itu karena saya sudah lebih lega dan bisa istirahat dengan cukup.

Setelah pulang pergi RS untuk mengantarkan ASI perah selama dua hari, Kenzie pun pulang ke rumah, hati saya yang sudah lebih tenang pun sangat senang sekali menyambutnya, bahkan rasanya lebih senang dari saat saya baru melahirkan.  Mungkin karena saya sudah bisa istirahat sejenak dan mendapatkan cukup tidur.

Alhamdulillah semua tidak berlangsung lama, setelah awal yang sulit, kami merasa sudah mampu dan insyallah siap menjadi orang tua untuk Kenzie. Semua perasaan kecewa, sakit di payudara, jahitan yang belum kering, capek dan frustasi rasanya luluh begitu saja saat pelukan dan ciuman hangat dari suami datang.

Kasih sayang dan perhatian dari orang – orang terdekat yang dibutuhkan seorang Ibu baru, membuat kebahagiaan dan menjadikan buah hati sehat.

3 responses »

  1. baby blues is a nightmare… =((
    pedih rasanya kalo inget zara pernah gue bentak-bentak bahkan gue naro dia di tempat tidur agak setengah ngebanting.. rrrrrrrrrrrr…..

    • :”( inget2 itu kadang bikin nyesel seumur idup ya The, beruntunglah ibu2 yang bahagia ga ketemu si hormon bayi biru ini, kiss Zara, kangen gue sm si kiting cantik

  2. 😀 ondeymandey di sini

    Hadudu gue juga baby blues waktu itu. Dan pas gue cerita ke nyokap, reaksi beliau “Ah, mama dl sampe punya anak tiga…ga ada tuh begitu2.” ZZzzzZZz. Ya kan beda orang beda kondisi ya. Tp untung gue punya temen yg selalu bersedia jd tempat sampah curhat ibu baru, dia menyemangati..katanya paling cuma seminggu. Dan itu yg gue pegang bener2….eh, seminggu udah biasa lagi. Hahaha. Kampret emang ya si hormon2 itu. Btw, gue tag ke blog gue ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s