Komunikasi Pengasuhan Anak

Standard

Ilmu dan pola asuh dalam mendidik anak memang tidak pernah ada habisnya, seiring perkembangan zaman pun ilmu terus berkembang. Pola pengasuhan diterapkan secara turun – temurun, kecuali kita mau “memotongnya”, lakukan revolusi pengasuhan, ciptakan generasi yang lebih baik. Dan Sabtu kemarin saya berkesempatan mengikuti seminar dengan pembicara Psikolog Elly Risman yang merupakan salah satu Board of Advisor majalah Parents Indonesia.

Inilah yang saya dapatkan dan sudah saya rangkum dari seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak”:

1. Bicara tergesa – gesa, sadar atau tidak, orangtua sering sekali ngomong pada anak “asal lewat”, bisa jadi karena kita yang terlalu sibuk, atau anak yang terlalu sibuk dengan kegiatannya di sekolah. Mereka dituntut masuk sekolah di jam yang sangat pagi (setengah tujuh), bagaimana mengatasinya? cari jalan tengah, ciptakan waktu untuk bersama, lakukan bonding dengan anak, sehingga anak bisa merasa nyaman berbicara dengan kita, mereka pun merasa kita adalah tempat yang tepat untuk mereka mencurahkan keluh kesahnya, kebahagiaannya, sehingga anak tidak kabur mencari orang lain (pacar) untuk dijadikan tempat curhat.

2. Belajar untuk kenali diri sendiri & lawan bicara (anak, suami, ….). Setiap anak adalah pribadi yang unik, bahkan anak kembar sekali pun. Sering dengan alasan kepraktisan, orangtua menasehati pada ketiga anaknya secara bersamaan, padahal pribadi dan apa yang ada di dalam pikiran masing – masing anak akan berbeda dari cara penyampaian dan menangkap maknanya.

3. Kebutuhan dan kemauan orangtua tidak sama dengan kebutuhan dan kemauan anak. Inilah yang banyak kita temui di kehidupan kita sehari – hari, misal orangtua menginginkan anaknya selalu rajin belajar supaya mendapatkan nilai yang terbaik di sekolah, padahal kebutuhan anak tidak melulu cuma belajar, mereka butuh refreshing dengan bermain. Biarkan mereka “mengistirahatkan” dulu otaknya setelah pulang sekolah untuk bermain, jangan paksa mereka langsung mengerjakan tugas rumahnya.

4. Tidak membaca bahasa tubuh, pelajari bahasa tubuh anak, kadang ada sebagian anak yang tidak aktif mengungkapkan apa yang mereka rasa (capek, kesal, marah) perasaan mereka terbaca dari bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh tidak pernah bohong.

5. Tidak mendengar perasaan. Jangan abaikan perasaan anak, biarkan mereka mengungkapkan semua keluh kesahnya pada kita, jangan membendungnya dan jangan menjudge, biarkan semua kekesalan mengalir, rasakan kita berada dipihaknya. Contoh : saat anak pulang sekolah, dia terlihat kesal dan marah, tanya pelan – pelan “wah, kamu pasti capek ya?kok keliatannya kesal banget?tadi abis dimarahin pak guru?….” jangan menyerah utk memancing perasaannya, setelah kita mendapatkan apa yang dia rasa, anak pasti akan membuka komunikasi dan mencurahkan semua kekesalannya, tapi jangan memotong dan menjudge di tengah perbincangan, mengapa demikian? karena seorang yang sedang emosi tidak akan bisa mendengarkan nasihat. Rasakan apa yang dia rasakan, bahkan kalo perlu posisikan kita sebagai teman yang ikut dihukum atau diledekin teman-temannya.

6. Jadilah pendengar aktif, lupakan dulu nasehat- nasehat yang akan kita berikan untuk anak, biarkan anak mencurahkan semua. Paling tidak kita tambahkan bumbu – bumbu ucapan seperti  “oo..begitu?, ya Allah….terus?…sedih banget dong!, kecewa ya….mmm..makanya kamu marah betul ya?” dan yang paling penting, luangkan waktu untuk duduk bareng dan serius mendengarkan, kalo kita menghargai cerita mereka, mereka akan sangat menghargai nasihat kita nantinya.

7. Hindari 12 gaya populer yang sering dilakukan, seperti

Memerintah

–  Menyalahkan : “tuuuh kan mama udah bilang, makanya dengerin mama, kualat kan”

Meremehkan : “alaaah segitu aja kok takut sih!”

Membandingkan : “liat kakak tuh, kemarin kakak jatuh darahnya lebih banyak juga nangisnya ga sekenceng kamu” selalu look in jangan terus look out

Mencap/label : ” tuh kan kamu bohong” Cap pada anak akan membentuk mental anak kedepan, saat kita bilang dia bohong/pembohong, dia akan merasa dirinya adalah pembohong

Mengancam : “ayo jangan lari – larian, nanti dimarahin pak polisi loh”

– Menasehati : Sebenarnya menasehati disini adalah jangan menasehati disaat anak sedang emosi atau ditengah tantrum, otak tidak akan mencerna ucapan yang didengar, jadi percuma saja.

– Membohongi

– Menghibur : Saat anak jatuh dan luka kita sering bilang “udah jangan nangis lagi, besok juga sembuh”  padahal kenyataannya belum tentu benar besok akan sembuh. Anak mencerna hal – hal sederhana.

– Mengkritik : Tidak akan tercapai solusi kalo terus- terusan kita hanya mengkritik. Anak mencurahkan isi hatinya pada kita karena mereka sudah merasa aman dengan orang tuanya.

– Menyindir

– Menganalisa

8. Tidak memisahkan masalah, inilah yang sering menjadi kekeliruan, demi anak, orangtua akan melakukan apa saja, padahal anak harus bisa menghadapi masalahnya sendiri, agar dia menjadi pribadi yang mandiri dan kreatif.

Contoh : Saat anak ketinggalan PR di rumah, anak telepon supaya kita bisa mngantarkan tugasnya ke sekolah, kalo kita mengikuti kemauan anak, sama saja dengan kita membiarkan anak untuk tidak belajar menghadapi situasi, nantinya anak sulit untuk membuat keputusan dan selalu mengandalkan orang lain. Jangan takut anak menjadi kecewa atau sakit, anak yang tidak pernah gagal, dia tidak akan pernah sukses, nantinya juga akan sulit untuk bersyukur. orangtua yang baik bukan lah orangtua yang selalu menservis semua kebutuhan anak.

Pilah -pilah dengan baik,

– masalah anak atau masalah orang tua?

– Dibantu atau dibiarkan?

– “Hidup adalah pilihan dan pilihan!”

– Anak perlu berfikir – memilih – mengambil keputusan –> kelak akan membentuk anak menjadi mandiri dan bertanggung jawab

9. Sampaikan pesan dengan baik, cara menyampaikan yang baik

“Mama/papa……(kata perasaan) kalau….karena……”

“mama senang deh kalau kamu mau mandi dulu sebelum nonton, supaya badannya bersih dulu pasti segar nantinya”

Intisari :

  • Ingat setiap anak adalah individu yang unik, bahkan dengan saudara kandungnya sendiri. Dengan dipercaya mempunyai anak kita harus siap mempunyai waktu lebih untuk mau mendengarkan mereka sekecil apapun masalah mereka, tanggapi dengan baik. Kalau anak merasa dirinya diterima dengan baik, dia akan mencurahkan semuanya pada kita, orangtua akan menjadi tempat yang dipercaya oleh anak.
  • Hargai perasaan mereka, jangan biarkan mereka membohongi diri mereka hanya karena kita memaksakan keinginan sendiri.
  • Membentuk anak yang berkualitas harus dimulai dari diri orangtua yang berkualitas, rubah pandangan dan sikap buruk kita, orangtua adalah panutan utama anak.
  • Anak yang tidak pernah merasakan kegagalan atau kesulitan tidak akan pernah menikmati kesuksesan
  • Anak berusia kurang dari 7 tahun belum mempunyai perencanaan dan pengambilan keputusan yang sempurna, kita masuk dulu ke dunianya.
  • Percaya diri bukanlah soal latihan, percaya diri adalah cara bagaimana menghargai diri sendiri.

Harga diri adalah bagaimana kita melihat diri sendiri

Konsep diri adalah bagaimana merasakan diri kita.

  • Penelitian terkini Harvard University, anak usia 1 tahun yang mendapatkan pukulan akan semakin nakal di usia 3 tahun, dan seterusnya.

Semoga rangkuman ini bermanfaat untuk semua, dan kita sebagai orangtua bisa bergerak ke arah perubahan demi menciptakan keturunan dan masa depan yang lebih baik. Amin.

6 responses »

  1. Nan, aku boleh copy-paste gak tulisannya? Taro di note FBku. Nanti aku ksh linknya dr blog lo. Ksh tau ya klo boleh. Thx😉

  2. Berguna banget nih Nan. Yg pasti I want to be the 1st person my 9 y.o. daughter runs to when she has issues. And for her to confide in me, I often confide in her to gain her trust and build a bond.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s