Ratu “jangan”

Standard

Minggu lalu saat saya makan di food court sebuah mall, di meja sebelah duduk seorang ibu dengan seorang anak batita, kalau dilihat dari postur tubuhnya kira – kira berusia 2,5 tahun. Dari mulai si ibu menaruh nampan berisi makanan ke meja sampai mereka selesai makan, saya sering mendengar kata “jangan” dan “tidak” keluar dari mulut si ibu. “Jangan meniup minuman dengan sedotan”,  “jangan menghambur – hamburkan nasi di meja”, “tidak, kamu tidak boleh melompat di kursi”, dan jangan yang lainnya. Apa reaksi si anak saat diperingati ini itu pada kelakuannya? dia semakin tidak bisa menguasai tingkahnya.

Seperti yang saya kutip dari tulisan parents.com, terlalu sering menggunakan kata “tidak” pada anak, dengan kata lain kita mengisyaratkan mereka  “jangan bereksperimen, jangan mencoba, jangan mengambil resiko”.  Bukan berarti kita sebagai orang tua tidak boleh mengkoreksi kesalahan anak, ucapkanlah larangan tersebut dengan kalimat lain.

Daripada menjawab “tidak, kamu tidak boleh main keluar sampai mainan di kamarmu rapi” lebih baik katakan “Ya, kamu bisa bermain keluar kalau mainan yang dikamar sudah kamu rapikan”. Mengucapkan kata tidak pada batita malah membuat anak tertantang untuk melakukannya.

Say something action, not just saying No, saat anak sedang bermain di jalan yang membehayakannya, jangan sekedar mengucapkan kata “jangan main di jalan” katakan “Berhenti, mari kita bermain di taman”

Kejadian lucu lainnya yang saya temui, seorang sepupu yang masih batita sering sekali melakukan hal – hal yang dilarang oleh ibunya, seperti memanjat, saat si ibu bilang “jangan manjat De, nanti jatuh” si anak malah semakin tinggi memanjat pohon, kemudian si ibu berpikir, kalo saya bilang sebaliknya, berarti dia akan menghentikan kelakuannya, kemudian si ibu bilang “ayo panjat terus yang tinggi”, sebenarnya ini juga merupakan suatu kekeliruan, malah membuat anak jadi tidak belajar apapun, dan semakin tinggi resiko yang didapat.

Saying “No” to ” No” ucapkan kata “Tidak” pada sesuatu yang benar-benar membahayakan nyawa, yang berhubungan dengan listrik, api atau bermain di jalan yang berbahaya. Anak membutuhkan penjelasan sebelum kita melarang kelakuannya, contohnya saat anak melompat di atas sofa, jangan katakan “kamu tidak boleh main lompat-lompatan” masalahnya bukan pada melompatnya tapi dimana ia melompat. Katakan “kamu boleh main lompat-lompatan di lantai.”


One response »

  1. thx mbak… Lagi ngajarin Alia ngga lompat2an di sofa nih… biasanya saya instruksinya “duduk yang manis di sofa, Alia…” mungkin bisa ditambah “Alia boleh lompat-lompatan di lantai.. Yuk lompat2 sama Ibu..” hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s